9 Tantangan Besar Yang Akan Dihadapi Para IT Leaders Pada Tahun 2020

9 Tantangan Besar Yang Akan Dihadapi Para IT Leaders Pada Tahun 2020

Pada zaman industri 4.0, banyak tantangan baru yang akan hadir bagi para eksekutif teknologi. Terlebih beradaptasi pada masa pandemi yang tidak pasti. Mulai dari kekurangan keterampilan hingga masalah personal dan data, eksekutif teknologi perlu mengatasi sejumlah tantangan di sepanjang perjalanan digital mereka tahun ini.

Ada 9 tantangan baru yang mungkin akan dialami oleh eksekutif teknologi di tahun 2020.

  1. Kekhawatiran Gig Economy

Gig Economy adalah salah satu hal yang mulai umum terjadi di industri 4.0. Gig economy adalah suatu kondisi pergeseran status pekerja perusahaan dari awalnya pekerja tetap, berubah menjadi pekerja kontrak atau temporer, independent workers, ataupun karyawan tidak tetap.

Gig economy ini merupakan salah satu hal yang dirasa cukup memberikan dampak positif bagi perusahaan. Banyak juga kaum milenial yang mulai menunjukkan ketertarikan kepada gig economy, karena lebih fleksibel.

Namun, tentu Gig economy ini memiliki sisi negatif yang tidak dapat terelakkan. Bagi mereka yang tidak siap untuk bereksplorasi dan berinovasi, hal ini akan mempersulit mereka yang belum tentu memiliki keterampilan yang mumpuni.

Selain dari sisi pekerja, Gig economy ini mengkhawatirkan bagi para eksekutif teknologi karena bersangkutan dengan penjagaan data pribadi dan perusahaan yang sensitif. Bukan hanya dalam faktor keamanan data pribadi dan perusahaan, gig economy juga membuat pencarian sumber daya menjadi sulit.

  1. Privasi Data

Dengan berjalannya masa pandemi ini, tata kelola data akan terus berkembang dan menjadi kekhawatiran dalam setiap departemen dalam suatu organisasi. Perlu dibuat peraturan untuk melindungi privasi data secara lengkap dan detail, agar di masa yang serba mobile dan remote ini, privasi data masih dapat terjaga dan dipelihara.

  1. Mengukur Teknologi Baru dengan ROI(Return of Investment)

Perusahaan yang mempertimbangkan teknologi canggih seperti AI dan otomatisasi proses robotik (RPA) perlu mempertimbangkan manfaat inovasi dengan manfaat yang dapat dibuktikan untuk bisnis daripada hanya mengadopsi teknologi yang sedang tren. Tidak pernah ada cukup sumber daya untuk melaksanakan setiap ide bagus yang dapat dilakukan oleh bisnis, jadi peta jalan selalu perlu memprioritaskan nilai tambah tertinggi dan ide tingkat upaya terendah, terlepas dari apakah nilai tersebut berasal dari teknologi baru yang canggih atau pemanfaatan kemampuan yang ada. 

  1. Ancaman Keamanan

Dengan ancaman yang semakin banyak dan semakin rumit, ada baiknya meningkatkan sistem keamanan kepada ancaman yang sudah ada, dibanding dengan ancaman baru. Tingkatkan sistem pada ancaman yang memang belum diatasi, baru beranjak untuk menghadapi ancaman-ancaman keamanan yang baru.

Ancaman-ancaman baru di tahun 2020 adalah, para hackers yang akan memulai serangan keamanan dengan strategi baru. Pemanfaatan pihak ketiga akan mungkin menjadi celah ancaman keamanan. Sebuah perusahaan harus terus menerus fokus memantau ancaman keamanan.

Tantangan lainnya yang mungkin muncul adalah ransomware. Ransomware adalah jenis malware yang menuntut tebusan finansial atas ancaman publikasi, penghapusan, atau penanganan data pribadi korban.

  1. Mengelola risiko dan ekspektasi

Teknologi dan informasi yang dikelola di masa ini harus mengadopsi teknologi, tren, dan pendekatan baru untuk bergerak sesuai kecepatan yang diharapkan. Sulit untuk tetap tepat waktu dan sesuai anggaran. Eksekutif perlu mengelola semua proyek dengan cara yang dapat mengurangi risiko. Mulailah dengan memastikan proyek menggunakan pendekatan modern dan tempatkan semua aktivitas berisiko tinggi di awal siklus proyek. 

Dengan begitu, jika sebuah proyek tidak akan berhasil, itu bisa gagal di masa awal dibanding di tahap selanjutnya. Distribusikan inisiatif menjadi proyek-proyek berbeda untuk mengurangi risiko di seluruh organisasi.

  1. Menghadapi kesenjangan keterampilan

Kesenjangan keterampilan yang dimiliki orang-orang di bidang teknologi dan informasi membuat banyak perusahaan mulai beralih ke otomatisasi. Tim IT harus mulai meningkatkan fokus pada otomatisasi untuk membantu mereka benar-benar melakukan lebih banyak hal dengan lebih sedikit dengan mengotomatiskan tugas dan proses yang berulang dan memungkinkan setiap profesional IT untuk mengelola lebih banyak infrastruktur per orang.

  1. Meningkatkan keterampilan dengan cepat

Mengembangkan keterampilan baru, menciptakan budaya pembelajaran, dan pengembangan harus dilakukan di masa kini untuk mengatasi tantangan otomatisasi. Merealisasikan ekspektasi tinggi dari pelanggan harus menjadi prioritas eksekutif teknologi.

  1. Cloud whiplash

Strategi cloud-first yang tidak memiliki visi dapat menyebabkan masalah yang menyebabkan organisasi mundur. Hal terbaik yang harus dilakukan perusahaan adalah menganalisis data dan beban kerja yang mereka miliki sebelum mempertimbangkan untuk pindah ke cloud untuk mengetahui biaya dan potensi dampak layanan yang terlibat. Memiliki strategi yang mengutamakan cloud perlu diperiksa untuk memastikan bahwa itu adalah hal yang benar untuk bisnis.

  1. Perubahan kultur/budaya di dunia digital

Transformasi digital yang sekarang terus menerus berkembang membutuhkan komitmen berkelanjutan dan perubahan dalam pola pikir dibanding mengandalkan teknologi saja. Kita perlu memahami bagaimana bisnis dapat mendorong tingkat penyesuaian organisasi yang diperlukan untuk memberikan hasil yang berarti dengan cukup cepat untuk mempengaruhi bisnis. 

Akan menjadi mudah untuk menggunakan teknologi baru pada suatu masalah, tetapi perubahan yang harus terjadi membutuhkan tingkat dukungan budaya dan organisasi yang dapat menjadi tantangan untuk didorong dan dipertahankan dalam jangka panjang.

Jika ada pertanyaan, hubungi kami di hello@taptalk.io. Semoga membantu!

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x