Bagaimana Cara CEO Transformatif Menghadapi Krisis

superheroes. people wearing capes. buildings.
superheroes. people wearing capes. buildings.

Pandemi COVID-19 telah mengubah segala aspek kehidupan, salah satunya berdampak pada bisnis. Hal ini tentunya menuntut setiap perusahaan untuk bertransformasi dan beradaptasi agar bisa tetap hidup di tengah krisis. Sebagian besar dari perusahaan yang ada di dunia telah melakukan tindakan yang cepat untuk menanggapi krisis ini. Namun, perlu diperhatikan bahwa mereka perlu membangun langkah-langkah yang tepat dan mengembangkan rencana jangka panjang dan komprehensi untuk mengubah posisinya di masa yang akan datang karena kita tidak tahu sampai kapan situasi ini akan berubah.

Keadaan menantang dan penuh ketidakpastian yang terus berlanjut memaksa CEO untuk memikirkan beberapa pilihan sulit. Beberapa membuat pemotongan gaji atau memecat pegawainya, dan ada yang fokus untuk keluar dari musibah. Menurut McKinsey Global Survey of executive terbaru, perusahaan mereka telah mempercepat transformasi digital interaksi pelanggan dan rantai pasokan serta operasi internal mereka selama tiga hingga empat tahun karena pandemi. 

Menghadapi momen ini, CEO telah mengubah cara mereka memimpin dengan cara yang bijaksana dan cerdik. Perubahan tersebut mungkin lahir dari kebutuhan, tetapi memiliki potensi besar di luar krisis ini. Terdapat beberapa sifat yang perlu dimiliki CEO untuk memimpin transformasi yang sukses

1. Mengambil tindakan yang tegas

Sebagian besar perusahaan telah meluncurkan inisiatif, seperti mengurangi biaya, menguji model bisnis online, menstabilkan rantai pasokan, dan menggunakan teknologi untuk meningkatkan komunikasi dan keterlibatan dengan karyawan dan pelanggan. Hal ini dilakukan untuk menanggapi pandemi, CEO membangun tim lintas fungsi yang berfungsi untuk mengatasi permasalahan baru yang muncul saat pandemi.

Masalah yang teridentifikasi dengan baik membutuhkan waktu yang banyak dan informasi yang jelas. Namun, hal ini dapat menunda CEO dalam mengambil keputusan. Pada masa ini, menunggu kepastian itu juga dapat membuang banyak waktu penting. Maka dari itu, CEO juga harus cepat tanggap dalam mengambil keputusan.

Dengan bertindak lebih awal, berani, dan tegas, CEO dapat mempercepat transformasi digital mereka dan mencapai kondisi normal berikutnya lebih cepat.

2. Bersedia melakukan perubahan pada tim mereka

Salah satu perubahan yang terjadi karena pandemi adalah remote working atau work from home (bekerja dari rumah). Dibandingkan melepas karyawannya, sistem kerja ini telah dilakukan oleh beberapa perusahaan. Keputusan untuk melakukan sistem kerja ini berada di tangan CEO. 

Namun, tidak semua CEO dapat membuat keputusan ini. Ketika Anda menjadi seorang pemimpin, berkorban bersama dengan karyawan dapat berarti bahwa mereka akan lebih berkomitmen untuk tetap bersama perusahaan selama dan setelah krisis. 

3. Mereka memahami bahwa transformasi adalah balapan tanpa garis finish

Kita hidup di era gangguan yang terus-menerus terjadi, dan untuk beberapa bisnis akan terasa seperti krisis permanen. Mengingat sifat transformasi dan kecenderungan untuk terganggu oleh peristiwa eksternal, perusahaan membutuhkan panduan agar mereka tetap berorientasi pada tujuan jangka panjang mereka.

Transformasi tidak lagi dapat dianggap sebagai proyek dengan deadline. CEO Transformatif tahu bahwa, untuk berhasil, mereka harus terus mengembangkan tujuan, bertindak lebih berani dari sebelumnya, dan mengidentifikasi cara untuk memperbarui organisasi.

4. Mereka meraih keuntungan langsung untuk mendanai perjalanan dan menceritakan kisah perubahan yang meyakinkan

Karena laju perubahan dalam bisnis semakin cepat, perusahaan tidak dapat lagi menghabiskan waktu enam bulan untuk merencanakan transformasi dan kemudian beberapa tahun lagi baru mengimplementasikannya. Sebaliknya, perusahaan perlu mengambil langkah segera untuk mulai memberikan hasil dan mendanai inisiatif masa depan.

Perusahaan berkinerja terbaik tidak hanya fokus pada penghematan biaya untuk membebaskan uang, tetapi sebaliknya, mereka memaksimalkan produktivitas modal dan menghasilkan keuntungan cepat untuk meningkatkan penjualan. Digitalisasi sering kali merupakan langkah penting untuk menghasilkan peningkatan kinerja yang cepat dan berkelanjutan serta mendanai perjalanan tersebut. 

5. Komunikasi yang jelas antar karyawan

Selama pandemi, perlu dilakukan komunikasi yang transparan antar rekan kerja. Berkomunikasi dengan transparansi berarti memberikan deskripsi realitas yang jujur dan akurat. Memberikan penjelasan yang sejelas mungkin tentang apa yang Anda, sebagai CEO, ketahui, antisipasi, dan artinya bagi orang lain. Sangat penting untuk menyampaikan pesan Anda dengan cara yang dapat dimengerti orang. 

6. Berempati dan rendah hati

Tragedi ini tentunya berdampak pada banyak pekerja terutama dampak yang negatif. Dalam hal ini, pemimpin perlu memiliki rasa empati untuk menyadari bagaimana kondisi karyawannya. Pemimpin perlu mempertimbangkan beberapa hal ini dalam membuat keputusan baru. 

Sayangnya, para pemimpin sering kali diharapkan untuk mengetahui semuanya dan membuat keputusan yang sempurna. Hanya pemimpin yang kuat yang bisa menanggapi pertanyaan sulit dengan menjawab “Saya tidak tahu, tapi saya akan mencari tahu” atau menyingkir dari podium untuk mengizinkan seorang ahli untuk menjawab sebagian besar pertanyaan. Rasa rendah hati sangat dibutuhkan dalam masa pandemi dibandingkan pemimpin yang egois.

7. Mereka memiliki rencana cadangan yang jelas dalam transformasi untuk mendorong pertumbuhan

Dihadapkan pada ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya, para pemimpin perlu menghindari pemikiran untuk “tetap berpegang pada keputusan” dalam upaya untuk tampil tegas dan sebaliknya bersedia untuk meninjau data atau infromasi baru serta mengubah arah jika perlu.

Terdapat banyak variabel yang tidak bisa diprediksi selama pandemi, maka dari itu penting bagi seorang CEO untuk memiliki rencana cadangan dalam mengatasi masalah yang tidak terduga. 

CEO yang memiliki sifat-sifat ini dapat membantu perusahaan mereka menstabilkan pendapatan, membuka pertumbuhan, mengurangi biaya, dan menjadi lebih gesit. Saat ini semua CEO sedang menghadapi tantangan. Mereka dapat melihatnya sebagai risiko dan hanya berfokus pada meminimalisir kerugian, atau mereka dapat memperlakukannya sebagai peluang yang suram. Semuanya kembali lagi bergantung pada keputusan CEO. Sekarang, Anda ingin menjadi CEO yang memiliki sifat seperti apa?

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments